Merancang Budaya Senyum Salam Sapa Sopan dan Santun (5S) di SMK Nida El Adabi


Sebagai sekolah dengan moto "unggul, modern, dan religius" seluruh civitas SMK Nida El Adabi memiliki tanggung jawab moral untuk menyelaraskan antara moto dan fakta sehari-hari di lingkungan sekolah. Moto unggul harus di selaraskan dengan fakta fasilitas pendukung yang mumpuni serta kualitas SDM di atas rata-rata, moto modern harus di selaraskan dengan fakta metode dan model pembelajaran yang up to date sesuai zamannya, dan moto religius harus di selaraskan dengan fakta iklim sekolah yang menggambarkan nilai-nilai religius dari atas ke bawah. Dengan fakta-fakta tadi indikator terlaksananya moto unggul, modern dan religius tersebut jelas dan terukur. 



Salah satu cara SMK Nida El Adabi dalam mewujudkan moto "religius" dengan cara menerapkan "Budaya 5S (senyum, salam, sapa, sopan dan santun)". Budaya sekolah tidak bisa diterapkan sim salabim hanya dengan pengumuman oleh guru atau kepala sekolah saat menjadi pembina upacara tapi perlu kiranya perancangan matang. Dan perancangan ini memerlukan metode yang nantinya tergambarkan dalam sebuah program yang jelas dan dapat di ukur dan di evaluasi tingkat keberhasilannya.

Budaya dan Budaya Sekolah

Sebelum kita merancang budaya sekolah terlebihh dahulu kita harus paham arti kata dari budaya dan budaya sekolah agar dalam proses perancangannya tidak melebar kemana-mana. Budaya dalah cara hidup yang berkembang dan dimiliki oleh seseorang atau sekelompok orang dan diwariskan dari generasi ke generasi tetapi tidak turun. Sedangkan budaya sekolah adalah sekumpulan nilai, norma, kebiasaan, tradisi, dan aturan tak tertulis yang hidup dan dipraktikkan bersama oleh seluruh warga sekolah—termasuk kepala sekolah, guru, staf, dan siswa.

Setelah memahami perbedaan arti dari budaya dan budaya sekolah kita dapat menyimpulkan cakupannya, budaya bersifat lebih luas dan umum mencakup seluruh aspek kehidupan manusia dalam suatu suku, bangsa atau kelompok sosial dan diwariskan dari generasi ke generasi di masyarakat, sedangkan budaya sekolah bersifat lebih khusus dan terbatas hanya pada lingkungan sekolah, mencakup aturan tertulis atau tidak tertulis termasuk hubungan antar warga sekolah dan sistem belajar.

Sampai pemahaman ini perlu di garis bawahi tentang cakupan budaya sekolah yang akan diterapkan di SMK Nida El Adabi yaitu "Budaya 5S", yaitu berupa aturan tertulis yang akan diterapkan kepada siswa dan seluruh warga sekolah sebagai teladan sebagai bentuk realisasi dari moto religius.

Perancangan Budaya Sekolah

Untuk merancang budaya sekolah kita memerlukan sebuah metode yang empiris. Adapun metode yang digunakan dalam perancangan budaya 5S di SMK Nida El Adabi yaitu dengan menggunakan model inquiry BAGJA. 

B: Buat pertanyaan utama (Define)

Pertanyaan:

  1. Mengapa kita perlu menumbuhkan budaya senyum, salam, sapa, sopan dan santun (5S) di lingkungan SMK Nida El-Adabi?
  2. Langkah awal apa yang harus di lakukan untuk menumbuhkan budaya senyum salam sapa sopan dan santun di SMK Nida El Adabi?
Tindakan penyelidikan:
  1. Bertukar pikiran / musyawarah dengan kepala sekolah dan civitas sekolah mengenai pentingnya etika budi pekerti murid yang terlihat secara visual yaitu dalam tindakan replektif berupa senyum, salam, sapa, sopan dan santun  kepada siapapun di lingkungan sekolah.
  2. Mencari literatur, sumber referensi dan praktik baik mengenai dampak posirif dari budaya 5S terhadap kenyamanan belajar di SMK Nida El Adabi.

A: Ambil pelajaran (discover)

Pertanyaan:

  1. Siapa saja guru atau siswa yang sudah secara konsisten berprilaku ramah dan menerapkan budaya senyum, salam, sapa, sopan dan santun?
  2. Aktivitas / program sekolah apa saja yang saat ini sudah mencerminkan elemen budaya 5S?
Tindakan penyelidikan:
  1. Mengidentifikasi guru atau siswa yang selama ini menunjukan prilaku ramah menggambarkan budaya 5S secara konsisten untuk dijadikan teladan (role model).
  2. Mengevaluasi seluruh aktivitas sekolah yang mencerminkan elemen budaya 5S, salah satunya saat guru menyambut siswa di pagi hari di gerbang sekolah.

G: Gali mimpi (Dream)
Pertanyaan:

  1. Seperti apa suasana sekolah ketika budaya senyum salam sapa sopan dan santun sudah sepenuhnya tertanam pada diri setiap siswa?
  2. Seperti apa indikator keberhasilan jika budaya 5S ini sudah sepenuhnya tertanam pada diri setiap siswa?

Tindakan penyelidikan:

  1. Membuat lembar refleksi atau visi bersama dengan seluruh siswa tentang sekolah yang penuh keramahan dimana siswanya ketika bertemu dengan siapapun di sekolah secara replek tersenyum, salam, menyapanya, berprilaku sopan dan santun.
  2. Menyusun indikator indikator keberhasilan dari budaya 5S ini.

J: Jabarkan Rencana (Design)

Pertanyaan:
  1. Apa target realistis dari program pembiasaan budaya 5S ini?
  2. Bagaimana strategi teknis pelaksanaan program budaya 5S ini agar berjalan konsisten?
Tindakan penyelidikan:
  1. Membuat program sambut siswa di pagi hari  oleh guru secara terjadwal untuk menerapkan budaya 5S.
  2. Membuat poster budaya 5S, poster menerapkan budaya 5S kepada petinggi-petinggi yayasan dan semua orang di lingkungan sekolah kemudian memasangnya di lokasi strategis yang mudah terlihat siswa.
  3. Memasukan budaya 5S kedalam kesepakan kelas, tata tertib sekolah dan mensosialisasikan kepada siswa secara terus menerus.
A: Atur Eksekusi (Deliver)
Pertanyaan;
  1. Siapa yang akan bertanggungjawab memantau pelaksanaan penerapan budaya 5S di SMK Nida El Adabi?
  2. Kapan program budaya 5S ini dilaksanakan di SMK Nida El Adabi?
  3. Apakah ada apresiasi kepada siswa kepada siswa atau kelas yang paling konsisten menerapkan budaya 5S?
Tindakan penyelidikan:
  1. Membentuk tim kerja yang terdiri dari kepala sekolah, kesiswaan, guru piket, pembina dan pengurus OSIS, wali kelas dan pengurus kelas.
  2. Menetapkan buku monitoring dan jadwal monitoring berkala
  3. Memberikan apresiasi kepada siswa atau kelas yang paling konsisten menerapkan budaya 5S sebagai motivasi.

Tahap Setelah Menyusun BAGJA

Setelah menyusun prakarsa perubahan dengan metode BAGJA di atas tahap selanjutnya adalah implementasi / aksi nyata.yaitu:
  1. Aksi nyata: melaksanakan program atau strategi yang sudah di rancang secara langsung di lapangan.
  2. Monitoring dan evaluasi: mengontrol proses pelaksanaan program secara rutin agar program terlaksana konsisten dan tetap berada di jalur yang benar.
  3. Refleksi: menilai hasil atau capaian atau indikator dari tindakan yang telah dilakukan sebagai bahan perbaikan ke depan.

Penutup

Budaya 5S merupakan budaya sekolah yang berdampak positif terhadap tumbuh kembangnya karakter positif sabagai bagian dari visualisasi nilai-nilai religius siswa di sekolah. Budaya 5S bisa terlaksana dengan baik jika terlebih dahulu dilakukan proses perancangan yang matang. Perancangan yang matang secara kolaboratif bersama seluruh civitas sekolah akan menghasilkan sebuah program penerapan budaya 5S yang jelas, terukur dan dapat di evaluasi dengan mudah. Program penerapan budaya 5S akan ter-realisasi jika dilaksanakan atas dasar kesadaran bersama bukan atas dasar paksaan atau intimidasi.